top

Home PUBLIKASI ARTIKEL Tujuh Kesalahan Fatal Kematian Kopdit atau CU


Statistik Inkopdit

Jlg Anggota perorangan
1.808.328
Jumlah Kopdit/CU 930
data per 31Des 2011.

Tujuh Kesalahan Fatal Kematian Kopdit atau CU

Tujuh Kesalahan Fatal

Kematian Kopdit - CU

Oleh : Abat Elias


"Tujuh Dosa Kematian CU" terdapat dalam modul Pelatihan CU Microfinance Innovation  yang dikembangkan ACCU dasawarsa 1990. Tujuh Dosa ini  disampaikan CEO ACCU - Mr. Ranjith.  Meski banyak yang sudah tahu tujuh dosa ini, ada baiknya  kita simak dan renungkan kembali karena penting bagi pengurus, pengawas serta manajer CU/ Kopdit agar tidak melakukan kesalahan yang menyebabkan CU bangkrut atau mati pelan-pelan. Penulis mengangkat kembali ‘Tujuh Dosa Kematian CU’ yang saya terjemahkan secara bebas menjadi “Tujuh Kesalahan Fatal Kematian CU” tanpa maksud  menakut-nakuti  pengelola CU tetapi ingin mengingatkan kembali agar tidak terperosok melakukan tujuh kesalahan tersebut. Karena tujuh kesalahan ini  sering dilakukan  insan-insan CU.

 

 

 

Ketujuh kesalahan fatal tersebut adalah :


1. Ketergantungan pada pihak lain.

Terlalu bergantung pada bantuan pihak luar membuat CU  menjadi lemah atau tidak memiliki stamina. Bantuan bisa datang dari pemerintah berupa pinjaman lunak/grant maupun sumbangan/hibah dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Mungkin pada saat awal masih bisa diterima, namun harus ada rencana yang pasti batas waktu berakhirnya bantuan,  sehingga CU harus merencanakan kemandirian organisasi dan bisnis.

Di Indonesia sering terdengar istilah ‘Koperasi Merpati’ yaitu koperasi yang hidup karena adanya bantuan.  Karena adanya bantuan  koperasi berjalan, namun setelah bantuan dihentikan koperasi bubar atau tidak beroperasi. Pengalaman tersebut  menjadi bahan pelajaran dan diharapkan tidak akan terulang kembali.

Jika CU/Kopdit memang membutuhkan tambahan modal gunakanlah Interlending Daerah meski jumlahnya dibatasi maksimal 5 % dari total aset. Pembatasan ini agar kemandirian dan otonomi CU  tidak terganggu.


2. Informasi keuangan yang membingungkan.

Laporan keuangan pengurus/manajer yang tidak standar membuat orang yang membaca menjadi bingung atau tidak paham.  Penyusunan laporan keuangan tidak boleh semaunya karena harus mengikuti  Standar Akuntansi Keuangan Koperasi Kredit (SAKKK).   Laporan yang tidak standar mungkin karena tidak tahu atau memang sengaja supaya yang membaca binggung, dengan demikian tidak ada pertanyaan.

Membuat laporan keuangan dengan niat  membingungkan orang sudah termasuk  perbuatan melanggar hukum karena ada unsur kesengajaan yaitu  mengandung unsur manipulasi (window dressing). Perbuatan ini  menyebabkan  CU dan  anggota sebagai pemilik mengalami kerugian.

Penyususnan laporan keuangan yang benar paling tidak mengandung :  Neraca, Laporan Surplus Hasil Usaha, Penjelasan Neraca dan Surplus Hasil Usaha, Laporan Cash flow (penerimaan dan pengeluaran kas). Ada beberapa CU yang sengaja tidak mau menggunakan piranti lunak namun memakai program sendiri yang tidak pernah maksimal penggunaanya dan tidak pernah menyelesaikan secara tuntas laporan keuangan. Termasuk dalam hal ini, pengurus dan manajer tidak menyimpan rapi bukti keuangan,  sehingga menyulitkan pemeriksaan oleh auditor/pengawas.


3. Produk dan pelayanan yang tidak kompetitif.

Produk-produk  tradisional yang tidak menarik  disebut sebagai salah satu dosa kematian  karena anggota tidak akan melirik produk tersebut. Misalnya produk simpanan hanya Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib, tidak ada simpanan lain, tidak ada diversifikasi simpanan.

Demikian juga pelayanan  masih  tradisional. Misalnya buku anggota dan buku simpanan masih ditulis  tangan, masih ada tipex, administrasi keuangan belum menggunakan  piranti lunak komputer, menarik simpanan selalu menunggu ada penerimaan  anggota lain, bunga pinjaman  terlalu tinggi sedangkan lembaga keuangan lain jauh lebih kecil, bunga simpanan nonsaham terlalu tinggi menyebabkan bunga pinjaman relatif tinggi sehingga tidak dapat bersaing dengan pasar.

Jangka waktu pencairan pinjaman terlalu lama menyebabkan banyak anggota lari ke lembaga keuangan lain yang lebih cepat dan luwes. CU yang tidak menambah jenis produk simpanan dan pinjaman  serta tidak ada perbaikan kualitas pelayanan  akan ditinggalkan anggota. Akhirnya    CU akan mati pelan-pelan.

 

4.   Citra publik buruk.

Bila ingin terus berkembang, CU harus  menjaga nama baik. Hal-hal yang terkait dengan citra antara lain: hubungan CU dengan masyarakat sekitar, tindakan CU sebagai lembaga kepada anggota/masyarakat sekitar, tindakan CU sebagai lembaga kepada karyawan yang dikeluarkan, produk pinjaman dan simpanan yang melanggar etika dan budaya masyarakat sekitar, produk simpanan yang membohongi anggota, perilaku   pengurus/pengawas/manajemen  yang melanggar etika dan budaya masyarakat , tindakan manajemen yang tidak pantas  melayani anggota.

Nilai-nilai universal yang dianut CU adalah kebersamaan, kejujuran, saling membantu, kerjasama, tidak diskriminasi, menjaga keberagaman, tanggungjawab sosial, dan pengawasan secara demokratis. Jika nilai-nilai ini  dijalankan,  diharapkan citra CU di mata publik  positif. Sebaliknya jika nilai-nilai tersebut dilanggar, citra CU buruk dan  akan mati pelan-pelan.


5. Tidak konsisten dengan komitmen

Keputusan yang diambil dalam forum Rapat Anggota merupakan komitmen yang disepakati bersama, karena itu harus dijalankan konsisten. Kadang-kadang pengurus/manajer tidak melaksanakan keputusan Rapat Anggota  bahkan ada yang  meniadakannya.  Contoh  anggota harus konsisten mengangsur pokok pinjaman bersama jasa pinjaman, namun ada pengurus dan staf justru melanggar.  Anggota pasti mengikuti jejak mereka. Ada pengurus yang melanggar Batas Maksimum Pinjaman. Kadang-kadang pengurus/manajemen  menghadapi dilema. Di satu pihak  harus mengejar target , di pihak lain tidak boleh melanggar Batas Maksimum Pemberian Pinjaman.

 

6.   Analisis pinjaman ala pemotongan kue.

Pada CU yang baru berdiri biasanya terjadi praktek analisa pinjaman ala pemotongan kue yaitu semua anggota yang mengajukan pinjaman dibagi sama rata. Artinya tidak dianalisa berdasarkan kemampuan mengembalikan pinjaman  tetapi lebih ditekan pada kesamaan hak sebagai anggota. Hal ini jika tidak dikaji kembali akan menjadi  kesalahan fatal.

Karena itu pemberian pinjaman seharusnya berdasarkan kemampuan anggota  mengembalikan pinjamannya. Pemberian pinjaman yang melebihi kemampuan mengembalikan tidak menguntungkan anggota dan CU. Anggota akan mengalami kesulitan waktu pengembalian, sehingga timbul  kemacetan  dan pendapatan CU menurun.

 

7.   Filosofis sosial  di atas citra bisnis.

CU adalah lembaga bisnis dari , oleh  dan untuk anggota. CU bukan lembaga sosial dan bukan lembaga karitatif. Karena itu CU harus memperoleh laba untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota dan mempertahankan hidup CU. Namun demikian CU bekerja tidak semata-mata mengejar laba tapi harus memperhatikan kepentingan anggota sebagai bagian dari pengembangan masyarakat (community development) yang tidak terpisahkan dari pengembangan CU.

CU dituntut meningkatkan martabat anggota, karenanya ia memiliki tanggungjawab agar anggota dapat membangun diri sendiri. Dengan demikian anggota memliki kemampuan  meningkatkan pendapatan melalui jasa-jasa yang disediakan CU.

Jasa - jasa tersebut tidak mesti gratis namun anggota harus dilatih agar menghargai dan membayar jasa tersebut. Jadi, semua jasa tidak ada yang gratis (no free lunch). Semua pinjaman harus dikembalikan sesuai aturan dan jika ada masalah harus dipecahkan bersama untuk mencari solusi terbaik. Tidak ada pinjaman yang dihapus. Kalau CU menghapus pinjaman karena kasihan, CU akan menghadapi kondisi mati pelan-pelan.

 

Kesimpulan

CU adalah lembaga bisnis yang dimiliki anggota, dikontrol oleh anggota dan hasilnya untuk kepentingan anggota. Karena itu CU sebagai lembaga bisnis harus berkembang menyesuaikan kebutuhan anggota yang semakin meningkat seimbang dengan perkembangan jaman. CU harus memperoleh laba untuk meningkatkan jasa pelayanan kepada anggota sehingga ia tidak akan  mengalami kekunoan karena tidak  berubah sesuai keinginan masyarakat. CU harus  selalu kreatif dan inovatif sesuai  kebutuhan pasar yang selalu berubah baik   produk simpanan, produk pinjaman dan kualitas pelayanan yang didukung teknologi terkini. Membesarkan CU sejalan  membangun manusianya (taraf hidup anggota, pengurus, pengawas dan manajemen). Jadi, pengembangan CU berkesinambung tidak terlepas meningkatkan jumlah uang, manusia dan pengembangan serta menghindari 7 dosa kematian agar ia  berkembang terus seperti  di negara maju.  PICU

 

 

bottom
top

TERPOPULER


bottom

Copyrights © 2009 Credit Union Central of Indonesia.